Tak Lengkap Rasanya ke Simeulue Jika Tidak ke Makam Tgk Khalilullah

Makam Tgk Khalilullah terletak di Gampong Latak Ayah, Kecamatan Salang, Kabupaten Simeulue.
banner 120x600
banner 468x60

Simeulue – Sudah lama ingin berkunjung ke Kabupaten Simeulue, bukan karena penasaran maupun ingin menikmati keindahan alam dan keramah-tamahan masyarakat di pulau dengan julukan ” Ate Fulawan” yang memiliki arti “Hati Emas” atau “Hati Seperti Emas”.

Tetapi sejak dulu saya ingin berkunjung kesana, namun masih ragu-ragu karena tidak mudah untuk menuju ke Simeulue, karena harus berlayar dengan kapal laut dengan jarak tempuh yang lama dan pesawat terbang yang tidak tentu jadwal keberangkatan.

banner 325x300

Dan sebelum berangkat kesana, banyak cerita yang saya dengar dari mulut ke mulut yang mengatakan tidak ada yang istimewa di pulau terluar yang paling dekat titik masuk jalur pelayaran global menuju selat malaka yang menjadi jalur perdagangan tersibuk didunia.

Selain itu, jika ingin menginjakkan kaki di Kabupaten Simeulue atau Sinabang juga tidak mudah karena hanya dua moda transportasi yang melayani rute kesana, yaitu kapal laut dan pesawat terbang.

Singkat cerita, pada hari Sabtu Tanggal 17 Oktober 2026, ponsel saya berdering tanda ada panggilan masuk, ternyata panggilan itu dari Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, Nasir Nurdin atau yang biasa kami sapa BNN di Banda Aceh.

Bagitu saya angkat, tidak ada basa-basi langsung to the point.

“Lim, kawanin abang ke Simeulue untuk bersilaturrahmi dengan kawan-kawan pengurus dan anggota PWI disana”, dengan jawaban yang tegas Siap Ketua !!.

Lalu, pada Senin pagi Tanggal 19 Oktober 2026, kami bergerak dari Banda Aceh menuju pelabuhan Calang, Aceh Jaya yang menjadi titik penyeberangan berlayar menuju Kabupaten Simeulue.

Tanda sirene Kapal KMP Aceh Hebat I yang kami tumpangi sebagai tanda kapal akan berlayar membelah lautan menuju Simuelue, ada rasa takut dan juga ada rasa penasaran selama berlayar karena jadi pengalaman pertama seumur hidup naik kapal laut dengan jarak tempuh sekitar 148 hingga 175 mil laut atau setara dengan 275–325 km dan tepatnya selama 12 hingga 14 jam.

Tepat pukul 07.30 pagi, hari Selasa Tanggal 20 Oktober 2026 akhirnya kapal Aceh Hebat I bersandar di Pelabuhan penyeberangan Sinabang. Dan kahadiran kami disana, disambut sangat luar biasa oleh kawan-kawan PWI Simeulue.

Pose bersama pengurus dan anggota PWI Aceh Simeulue

Setelah mengikuti sejumlah agenda PWI disana, esoknya kami mengunjungi sejumlah tempat wisata yang sangat eksotis dan memanjakan mata.

Namun, ada satu tempat yang juga patut disinggahi untuk mengenal lebih dekat jejak sejarah dan nilai-nilai religius masyarakat setempat, yakni makam Tgk. Khalilullah.

Bagi sebagian pengunjung, perjalanan ke Simeulue terasa belum lengkap tanpa menyempatkan diri berziarah ke makam ulama yang dikenal dalam tradisi masyarakat setempat tersebut.

Di tempat itu, kami melaksanakan ibadah dan doa bersama dengan suasana khidmat berpadu dengan kisah masa lalu yang terus hidup dalam ingatan masyarakat setempat.

Makam Tgk. Khalilullah bukan hanya menjadi tempat untuk berziarah. Lebih dari itu, keberadaannya menyimpan nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Simeulue.

Di tengah perkembangan zaman dan semakin terbukanya akses wisata, wisata religi memiliki daya tarik tersendiri.

Jika wisata alam menawarkan keindahan yang memanjakan mata, wisata religi menghadirkan pengalaman yang mengajak pengunjung untuk sejenak berhenti, merenung, serta mengenal warisan leluhur.

Bagi peziarah, kunjungan ke makam menjadi kesempatan untuk memanjatkan doa sekaligus mengingat kembali peran para ulama dalam perjalanan kehidupan masyarakat.

Sementara bagi wisatawan, tempat ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami Simeulue dari sisi yang berbeda, bukan hanya sebagai daerah kepulauan dengan panorama alam yang menawan, tetapi juga sebagai wilayah yang memiliki kekayaan sejarah dan tradisi keagamaan.

Jejak sejarah dan kiprah Tgk Khalilullah

Teungku Khalilullah (juga dikenal sebagai Teungku Di Ujung) adalah seorang ulama penyebar agama Islam terkemuka yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber disebutkan, Tgk Khalilullah berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat tepat dari Ulakan Pariaman.

Beliau diutus oleh Kesultanan Aceh (di masa Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1614 M) untuk menyebarkan ajaran Islam ke Pulau Simeulue (dahulu disebut Pulo U).

Selama di Simeulue belau sangat berjasa dalam mengislamkan hampir seluruh penduduk pulau dan mendirikan pusat pendidikan serta masjid pertama bernama Balee Manyang pada tahun 1618 M.

Kini diareal pemakaman Tgk Khalilullah yang berdampingan dengan istrinya Putri Si Melur atau Putri Meulue sudah berdiri Dayah Mahilul Qur’an Khalilullah.

Keberadaan makam Tgk Khalilullah menjadi pengingat bahwa sejarah suatu daerah tidak hanya tersimpan dalam buku atau catatan tertulis. Sejarah juga hidup melalui situs-situs peninggalan, tradisi ziarah, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya ***

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *