Jakarta – TNI AL tengah mendalami teknologi penerbangan mutakhir di Italia untuk memperkuat pengawasan wilayah perairan Indonesia. Delegasi yang dipimpin Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksdya Edwin memantau langsung pusat industri kedirgantaraan di Naples dan Varese, pada 5–11 Mei.
Kunjungan strategis ini berfokus pada penguatan kedaulatan maritim melalui modernisasi alutsista udara. TNI AL membedah sejumlah platform yang memiliki efisiensi operasional tinggi serta kemampuan tempur mumpuni di medan laut.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul, menjelaskan tinjauan langsung ke Italia ini merupakan bagian dari upaya memperdalam kajian teknologi penerbangan strategis. Menurutnya, TNI AL memerlukan perangkat yang fleksibel untuk berbagai misi khusus di wilayah kepulauan.
“TNI AL memprioritaskan platform yang memiliki fleksibilitas tinggi. Seperti pesawat A-Viator (AP68TP-600) yang kami tinjau di Vulcanair, itu merupakan pesawat bermesin ganda turboprop dengan konfigurasi sayap atas untuk mendukung efisiensi operasional tinggi. Pesawat berkapasitas 11 personel ini punya roda pendarat yang bisa ditarik masuk guna memacu kecepatan terbang,” jelas Tunggul, dikutip dari keterangan Dispenal di Jakarta, Selasa (12/5).
Tunggul memaparkan, pesawat tersebut sangat mumpuni untuk misi pengintaian karena sanggup membawa kamera sensor panas atau Forward Looking Infrared (FLIR). Platform ini juga sangat andal untuk kebutuhan pemetaan fotogrametri, yakni teknik pemetaan presisi menggunakan sensor foto udara.
Tak hanya pesawat, TNI AL memantau serius dua jenis helikopter buatan Leonardo Helicopters. Tunggul merinci keunggulan helikopter NH90 NFH (NATO Frigate Helicopter) yang dirancang khusus untuk peperangan anti-kapal selam atau Anti-Submarine Warfare (ASW).
“Helikopter NH90 NFH ini memiliki perangkat dipping sonar SONICS Flash Mk1, yaitu sensor yang bisa dicelupkan ke air untuk melacak kapal selam musuh. Untuk penindakan, helikopter tersebut sanggup menghancurkan sasaran menggunakan torpedo MU90 serta rudal antikapal Marte ER,” paparnya.
Selain varian pemburu kapal selam, delegasi melihat langsung helikopter AW149. Tunggul menyebut helikopter militer kelas medium ini memiliki bobot maksimal 8,6 ton dan mampu memboyong 16 pasukan bersenjata lengkap.
“AW149 ini sangat tangguh karena sanggup terbang dalam segala kondisi cuaca. Fungsinya sangat beragam, mulai dari misi penyelamatan atau SAR, evakuasi medis, hingga bantuan tembakan udara jarak dekat atau close air support untuk mendukung operasi di lapangan,” tutup Tunggul. (Red)















