Lhokseumawe – Warga di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Ridefa Aceh Maju Bersama yang berlokasi di Jalan Medan-Banda Aceh atau tepatnya didepan RSUD Cut Meutia, Buket Rata, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, mengeluhkan bau limbah yang menyengat.
Bau menyengat itu diduga berasal dari aktivitas operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Yayasan Ridefa Aceh Maju Bersama. Dan aroma tidak sedap tersebut disebut mulai mengganggu kenyamanan masyarakat.
Selain menggangu kenyamanan warga sekitar, berdekatan dengan lokasi SPPG itu juga ada usaha Warkop dan sebagian pengunjung juga mengeluhkan aroma yang tidak sedap itu.
Sejumlah warga mengaku bau limbah tercium hampir setiap hari, terutama pada siang hingga sore hari saat cuaca panas. Kondisi itu membuat warga merasa tidak nyaman karena aroma menyengat.
“Saat angin bertiup ke arah permukiman dan tempat usaha warga lainnya, baunya sangat terasa. Kami berharap ada penanganan agar tidak terus mengganggu warga,” ujar salah seorang warga setempat.
Menurutnya, persoalan tersebut telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
“Kami berharap pengelolaan limbah dari operasional SPPG dapat dilakukan secara lebih optimal sehingga tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Selain mengganggu kenyamanan, warga juga menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi dampak kesehatan apabila kondisi tersebut terus berlangsung.
Karena itu, masyarakat meminta pihak terkait untuk melakukan pengecekan dan evaluasi terhadap sistem pengolahan limbah yang digunakan.
Seharusnya, pengelola SPPG bersama instansi terkait dapat segera mencari solusi agar aktivitas pelayanan program gizi tetap berjalan tanpa menimbulkan gangguan bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, Kepala SPPG Yayasan Ridefa Aceh Maju Bersama, Fahmi dalam keterangannya, Senin (15/6) mengakui jika limbah dari aktifitas dapur MBG yang dikelolanya itu menimbulkan aroma yang tidak sedap.

Dari pihak SPPG selalu melakukan gotong royong untuk membersihkan saluran, tapi saluran yang terhubung dari dapur MBG hingga ke saluran akhir pembuang yaitu ke sungai Alue Raya, Desa Mesjid, Kecamatan Blang Mangat tidak lancar akibat salurannya dangkal.
“Namun persoalan limbah itu, bukan mutalak jadi tanggung jawab saya, tapi itu merupakan tanggung jawab mitra SPPG,” ungkap Fahmi yang juga Korwil SPPG Kecamatan Blang Mangat itu.
Ia juga menyebutkan, jikapun diberitakan persoalan limbah itu, juga tidak berpengaruh terhadap aktifitas dapur MBG, karena saya cukup memberikan klarifikasi dan itu menjadi tanggung jawab dari mitra.
Sedangkan mitra SPPG Yayasan Ridefa Aceh Maju Bersama, Mauliza, dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan mengatakan, terkait limbah dari aktifitas dapur MBG, pihaknya melakukan gotong royong dua kali seminggu.
“Kami gotong royong seminggu dua kali untuk membersihkan parit agar salurannya lancar,” ungkap Mauliza.
Dengan adanya informasi ini, kami akan terus melakukan evaluasi dan terus melalukan pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara intensif. (Red)















