Buka Puasa di Pidie, Wagub Aceh Kenang Jejak Perjuangan Abu Razak

banner 120x600
banner 468x60

PIDIE – Senja merayap pelan di langit Pidie, ketika ratusan warga mulai memadati halaman Masjid Darussaadah, Jumat (13/3/2026). Di tempat itu, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, duduk bersila bersama masyarakat, menunggu waktu berbuka puasa. Suasana sederhana, namun sarat makna: pertemuan antara pemimpin dan rakyat, yang dibalut doa dan kenangan.

Kegiatan buka puasa bersama ini bukan sekadar agenda seremonial Ramadan. Ia menjelma menjadi ruang refleksi kolektif untuk mengenang sosok Kamaruddin Abubakar—figur yang lekat dalam sejarah perjuangan dan dinamika pembangunan Aceh pascakonflik.

banner 325x300

Sejumlah anggota DPRA, tokoh Komite Peralihan Aceh, serta tokoh masyarakat turut hadir. Kehadiran mereka mempertegas bahwa jejak Abu Razak tidak hanya hidup dalam ingatan individu, tetapi juga dalam memori kolektif Aceh.

Fadhlullah, yang akrab disapa Dek Fadh, tampak larut dalam kenangan. Dalam sambutannya, ia menuturkan kembali fragmen masa lalu—masa ketika Aceh berada dalam pusaran konflik bersenjata. Di masa itu, katanya, Abu Razak bukan hanya rekan, melainkan sahabat seperjuangan.

“Beliau adalah sosok yang memiliki komitmen kuat untuk Aceh. Banyak kenangan yang kami lalui bersama pada masa-masa sulit dahulu,” ujar Fadhlullah, dengan nada yang menahan haru.

Bagi Fadhlullah, sosok Abu Razak bukan sekadar tokoh politik atau organisatoris. Ia adalah representasi dari generasi yang meletakkan fondasi bagi Aceh hari ini—Aceh yang relatif damai dan terus bergerak membangun diri.

Momentum buka puasa itu kemudian diisi dengan pembacaan doa dan samadiyah. Suara lantunan doa menggema di ruang masjid, menyatu dengan harapan agar segala pengabdian almarhum mendapat balasan terbaik di sisi Tuhan. Dalam keheningan itu, kebersamaan terasa lebih dalam—melampaui sekat jabatan dan status sosial.

Di tengah suasana Ramadan yang khusyuk, kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan Aceh tidak hanya soal infrastruktur atau angka-angka ekonomi. Ia juga bertumpu pada nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap sejarah, serta keberlanjutan semangat persatuan.

Fadhlullah menegaskan, kebersamaan seperti ini harus terus dijaga. Menurutnya, silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat arah pembangunan daerah.

“Momentum seperti ini penting untuk mempererat hubungan. Kita ingin Aceh dibangun dengan semangat kebersamaan, sebagaimana yang telah dicontohkan para pendahulu,” ujarnya.

Di penghujung acara, azan Magrib berkumandang. Warga yang sejak tadi menanti, serentak membatalkan puasa. Di antara hidangan sederhana, terselip makna yang lebih besar: tentang ingatan, penghormatan, dan harapan.

Di Gampong Teupin Raya, malam itu, Aceh tidak hanya berbuka puasa. Ia juga membuka kembali lembar kenangan—sekaligus meneguhkan langkah ke depan. [Adv]

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *