Sore belum benar-benar jatuh. Cahaya matahari masih menyisakan warna keemasan di balik jendela. Di atas meja, sebuah ponsel tergeletak dalam diam. Lalu tiba-tiba bergetar.
Brrr…Disusul bunyi pendek notifikasi WhatsApp. Tit. Layar ponsel menyala, sebuah pesan masuk.
Saya meraihnya. Membuka percakapan itu perlahan. Di sana, ada sebuah kabar yang sebenarnya sederhana, tetapi menyimpan arti panjang bagi perjalanan organisasi wartawan di Aceh.
Nasir Nurdin kembali maju. Senin, 5 Oktober 2026, pukul 17.00 WIB. Di Kantor PWI Aceh, seorang petahana kembali mengambil formulir pendaftaran sebagai bakal calon Ketua PWI Aceh periode 2026-2031. Pesan itu diawali salam.
“Assalamualaikum Wr Wb.”
Kemudian sebuah laporan singkat:
“Izin melaporkan, hari ini, Senin, 5 Okt 2026, pukul 17.00 WIB, saya Nasir Nurdin mengambil form pendaftaran sebagai bakal calon Ketua PWI Aceh periode 2026-2031 sekaligus konferensi pers di Kantor PWI Aceh.’”
Saya membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Ada sesuatu yang terasa berbeda dari sekadar pengambilan formulir. Sebab nama itu bukan nama baru dalam gelanggang PWI Aceh.
Nasir Nurdin adalah orang yang selama periode berjalan berada di kursi kepemimpinan. Ia telah melewati hari-hari panjang sebagai Ketua PWI Aceh. Menyusuri dinamika organisasi, menghadapi berbagai persoalan, mendengar suara anggota, dan membawa organisasi itu hingga mendekati sebuah pergantian periode.
Kini, ketika masa kepemimpinannya hampir sampai di ujung, ia memilih untuk tidak menepi.Ia kembali berdiri.
Kembali mengetuk pintu yang sama. Kembali menawarkan dirinya kepada para pemilik suara.
Bukan sebagai nama yang baru muncul, tetapi sebagai petahana yang ingin mempertahankan kepercayaan.
Di titik itulah kontestasi ini menjadi lebih dari sekadar perebutan kursi. Seorang petahana selalu membawa dua hal sekaligus: rekam jejak dan pertanyaan.
Apa yang telah dilakukan?
Apa yang belum selesai?
Apa yang ingin dilanjutkan?
Dan, yang paling penting, apakah perjalanan yang sudah dilalui masih cukup kuat untuk mendapatkan kepercayaan sekali lagi?
Pertanyaan-pertanyaan itu kelak akan menemukan jawabannya di ruang konferensi.
Tetapi sore itu, semuanya baru dimulai dari selembar formulir. Nasir Nurdin mengambilnya. Sebuah langkah kecil secara kasat mata.
Namun dalam politik organisasi, selembar formulir bisa menjadi pintu menuju pertarungan gagasan, dukungan, dan kepercayaan.
PWI Aceh akan memilih. Para wartawan akan menentukan dan Nasir Nurdin memilih kembali menawarkan dirinya.
Pesan WhatsApp itu belum selesai.
Ada satu nama lain yang ikut disebut. Juga ikut mendaftar bakal calon Ketua DKP PWI Aceh periode 2026-2031, Muhammad Zairin.
Satu nama untuk kursi Ketua PWI Aceh.Satu nama untuk Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia Aceh.Pertanda bahwa roda Konferensi XIII PWI Aceh mulai bergerak.
Tanggal 20-22 November 2026 semakin dekat. Waktu perlahan berubah menjadi hitungan. Dan hitungan itu akan membawa para wartawan Aceh menuju sebuah ruang tempat suara-suara dikumpulkan, pilihan-pilihan dipertaruhkan, dan masa depan organisasi ditentukan.
Bagi Nasir Nurdin, perjalanan menuju konferensi itu tentu bukan perjalanan pertama.
Ia datang sebagai petahana.Datang dengan pengalaman lima tahun kepemimpinan yang menjadi bagian dari dirinya.Ia tahu bagaimana rasanya berada di kursi ketua.
Tahu bahwa kursi itu tidak selalu nyaman. Di sana ada pujian, tetapi juga kritik. Ada dukungan, tetapi juga perbedaan pandangan. Ada keberhasilan yang bisa dikenang, tetapi ada pula pekerjaan rumah yang mungkin belum selesai.
Karena itu, ketika seorang petahana kembali mencalonkan diri, sesungguhnya ia sedang membawa seluruh jejak kepemimpinannya ke hadapan para pemilih.
Tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi di balik janji. Rekam jejak akan berbicara. Ingatan anggota akan berbicara. Dan pada akhirnya, suara konferensi akan menjadi hakimnya.
Saya kembali melihat layar ponsel.
Pesan itu ditutup dengan kalimat yang jauh lebih sederhana daripada seluruh dinamika yang mungkin akan menyertainya.
“Mohon doa semoga semua berjalan lancar.”
Kalimat itu terasa manusiawi. Di balik seorang ketua organisasi, ternyata tetap ada seorang manusia yang menyadari bahwa sebuah perjuangan tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman tangan sendiri.
Ada ikhtiar. Ada keberanian untuk maju. Ada pengalaman yang dibawa. Tetapi ada pula doa. Sebab pada akhirnya, kursi ketua bukan milik petahana. Bukan pula milik orang yang paling lama dikenal. Ia adalah amanah yang harus diperebutkan melalui kepercayaan.
Sore itu, notifikasi WhatsApp telah kembali padam. Layar ponsel kembali gelap. Tetapi kabar itu telah meninggalkan satu cahaya kecil dalam ingatan: Nasir Nurdin kembali maju.
Petahana itu belum ingin menutup bukunya. Ia masih ingin menulis satu bab lagi. Apakah bab berikutnya akan menjadi kelanjutan dari kepemimpinan yang telah ia jalani, atau justru menjadi halaman terakhirnya di kursi Ketua PWI Aceh?
Jawabannya belum tertulis. Ia akan ditentukan oleh suara para wartawan Aceh pada Konferensi XIII PWI Aceh.
Untuk sementara, Nasir Nurdin telah melakukan bagiannya. Ia mengambil formulir. Ia menyatakan kesiapan. Ia kembali berdiri di garis depan.
Dan dari sebuah notifikasi yang bergetar di layar ponsel pada sore 5 Oktober 2026, babak baru perebutan kepemimpinan PWI Aceh resmi dimulai.***
Oleh : Jefry Tamara (Sekretaris PWI Aceh Utara)







