Jakarta – Sebuah kapal asal Korea Selatan (Korsel) dilaporkan mengalami ledakan dan kebakaran di Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Korsel menyatakan ini merupakan insiden kerusakan pertama yang menimpa armada komersial negara tersebut sejak konflik pecah di Timur Tengah.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden “ledakan dan kebakaran yang terjadi pada kapal HMM Namu yang dioperasikan Korea, yang sedang berlabuh di perairan dekat Uni Emirat Arab,” ungkap Kementerian Luar Negeri Korsel dalam pernyataan resminya pada Selasa (5/5).
Menanggapi kejadian ini, Seoul segera menggelar rapat darurat yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Kedua, Kim Jina. Dalam rapat tersebut, Kim menyatakan “keprihatinan mendalam” dan menekankan pentingnya mengidentifikasi penyebab insiden guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa Seoul siap “mengambil tindakan cepat kapan pun demi melindungi nyawa dan keselamatan awak kapal Korea.”
Perusahaan pelayaran HMM, selaku operator kapal curah ukuran sedang tersebut, menyatakan bahwa api bersumber dari ruang mesin. Melansir laporan Yonhap News, api baru bisa dipadamkan oleh kru setelah upaya selama empat jam. Seluruh 24 awak kapal, termasuk enam warga negara Korsel, dilaporkan selamat tanpa luka sedikit pun.
Laporan Yonhap juga menyebutkan bahwa pemerintah Korsel menerima intelijen yang mengindikasikan adanya serangan terhadap kapal tersebut, namun penyelidikan masih berlangsung. “Belum dapat dikonfirmasi apakah terjadi serangan luar atau ledakan tersebut disebabkan oleh masalah internal di dalam kapal,” ujar seorang pejabat HMM. Kapal tersebut rencananya akan ditarik menuju Pelabuhan Dubai.
Menanggapi insiden ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan “mungkin sudah waktunya Korea Selatan datang dan bergabung dalam misi” di Selat Hormuz. Dalam unggahan di Truth Social, ua menyebut Iran telah melepaskan tembakan ke arah “kapal kargo Korea Selatan.”
Konflik di Timur Tengah sendiri dimulai pada akhir Februari. Korea Selatan—yang mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya, termasuk sekitar 70% minyak mentah melalui Selat Hormuz—menjadi salah satu negara yang terdampak signifikan oleh guncangan energi akibat konflik yang dipicu Iran. (Red)













