Lhokseumawe – Wali Kota Lhokseumawe, Dr Sayuti Abubakar, SH, MH menegaskan pentingnya edukasi literasi sejak usia dini sebagai salah satu upaya membangun generasi muda yang cerdas, berwawasan luas, serta memiliki kemampuan berpikir kritis.
Penegasan itu disampaikan Walikota Sayuti Abubakar yang didampingi Bunda PAUD Kota Lhokseumawe, Ny. Yulinda Sayuti saat membuka Festival Literasi 2026 yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Lhokseumawe, Senin, (2/11).
Ia juga mengatakan, Pemko Lhokseumawe akan terus memperkuat pengenalan literasi kepada anak sejak usia dini dan diharapkan Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal buku, berinteraksi, serta menumbuhkan minat membaca melalui pendekatan belajar sambil bermain.
Menurutnya, literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, serta mengembangkan kreativitas dan pola pikir anak.
“Edukasi literasi sejak dini sangat penting karena menjadi fondasi bagi perkembangan pengetahuan dan karakter anak. Kita ingin melahirkan generasi yang gemar membaca, memiliki wawasan luas, serta mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman,” tegas Sayuti yang Ketua DPD Partai Demokrat Aceh itu.
Walikota juga mengajak para orang tua, tenaga pendidik, serta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya membaca di tengah keluarga dan lingkungan pendidikan.
Dan kehadiran pimpinan daerah tersebut menjadi bagian dari dukungan Pemko Lhokseumawe terhadap penguatan budaya literasi di tengah masyarakat, terutama bagi anak-anak yang sedang berada dalam tahap awal perkembangan kemampuan belajar.
Pada kesempatan yang sama, Bunda PAUD Kota Lhokseumawe, Ny. Yulinda Sayuti juga ikut mengajak 30 orang anak PAUD untuk mengenal buku dan membangun kecintaan terhadap membaca.

Ia juga mendorong agar Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Lhokseumawe semakin dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan literasi bagi anak-anak.
Dalam keterangannya, Yulinda mengatakan, kebiasaan membaca perlu diperkenalkan sejak dini melalui kegiatan yang menyenangkan. Anak-anak tidak cukup hanya diminta membaca, tetapi juga perlu diberikan pengalaman berinteraksi dengan buku, bercerita, bertanya, dan menyampaikan pendapat.
Melalui dialog sederhana, anak-anak diajak mengenal buku, berbagi pengalaman mengenai kebiasaan membaca, serta menjawab pertanyaan. Interaksi tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk melatih keberanian dan rasa percaya diri.
Festival Literasi 2026 juga menghadirkan berbagai stan yang menjadi ruang interaksi bagi pengunjung dan peserta. Mereka saling menyapa, memperkenalkan karya, serta berbagi informasi mengenai kegiatan dan produk literasi yang dibawa. (Adv)















